Jumat, 27 Juli 2012

BAHAN PLPG,CONTOH PROPOSAL PENJAS


UPAYA MENINGKATKAN KESEGARAN JASMANI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya mengembangkan ranah jasmani, tetapi juga mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olah raga.
Pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-spritual-dan sosial), serta pembiasan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.
Pendidikan jasmani memiliki peran yang sangat penting dalam mengintensifkan penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah dan terencana. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru harus dapat mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan / olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur kerjasama, dan lain-lain) dari pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik mental, intelektual, emosional dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan dikdakdik-metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan dan memeliharan kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia.
Namun kenyataan di lapangan dalam masa transisi perubahan kurikulum dari kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 yang semula pendidikan jasmani dan kesehatan dengan alokasi waktu 2 jam per minggu @ 40 menit, sekarang Pendidikan Jasmani dengan alokasi waktu 3 jam per minggu @ 40 menit, masih banyak kendala dalam menerapkan kurikulum tersebut. Hal ini disebabkan karena belum adanya sosialisasi secara menyeluruh di jajaran pendidikan sehingga masih banyak perbedaan penafsiran tentang pendidikan jasmani utamanya dalam pembagian waktu jam pelajaran.
Adanya ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani dalam kurikulum 2004 untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA MA sebenarnya sangat membantu pengajar pendidikan jasmani dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan siswa. Adapun ruang lingkup pendidikan jasmani meliputi aspek permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri / senam, aktivitas ritmik, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas.
Sesuai dengan karakteristik siswa SMP, usia 12 – 16 tahun kebanyakan dari mereka cenderung masih suka bermain. Untuk itu guru harus mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif, disamping harus memahami dan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan siswa. Pada masa usia tersebut seluruh aspek perkembangan manusia baik itu kognitif, psikomotorik dan afektif mengalami perubahan. Perubahan yang paling mencolok adalah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologis.
Agar standar kompetensi pembelajaran pendidikan jasmani dapat terlaksana sesuai dengan pedoman, maksud dan juga tujuan sebagaimana yang ada dalam kurikulum, maka guru pendidikan jasmani harus mampu membuat pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Untuk itu perlu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi dalam pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, penulis melakukan penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan Kesegaran Jasmani melalui Pendekatan Bermain dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 3 Kisaran Tahun Pelajaran 2007/2008.
B.     Identifikasi Masalah
Dengan adanya kurikulum berbasis kompetensi yang merupakan pedoman bagi guru dan merupakan bahan kegiatan dalam pembelajaran, maka siswa perlu mempelajari dan melaksanakan untuk mencapai kompetensi yang sudah dirumuskan. Untuk mencapai standar kompetensi tersebut bukanlah yang mudah. Adapun permasalahan-permasalahan yang muncul dilapangan adalah sebagai berikut:
1.      Banyak dikalangan pendidikan yang belum memahami tentang perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olah Raga.
2.      Kurangnya pemahaman dari siswa tentang maksud dan tujuan pendidikan jasmani sehingga pada proses pembelajaran belum semua antusias untuk beraktivitas jasmani.
3.      Kurangnya pemahaman tentang arti pentingnya tubuh bugar dan sehat, sehingga mereka mengikuti pendidikan jasmani hanya sekedar ikut dan memperoleh nilai.
C.     Batasan Masalah
Penelitian ini memiliki beberapa batasan yang perlu dikembangkan agar substansi penelitian ini tidak melebar dan agar dapat kesepahaman penafsiran tentang substansi yang ada dalam penelitian ini. Batasan-batasan masalah tersebut adalah sebagaimana berikut ini:
1.      Penelitian ini hanya menitikberatkan pada model pembelajaran dengan pendekatan bermain untuk meningkatkan kesegaran jasmani siswa.
2.      Penelitian ini menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan bermain pada pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan tingkat kesegaran jasmani siswa.
D. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apakah pembelajaran pendidikan jasmani dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain tingkat kesegaran jasmani siswa dapat meningkat?
2.      Seberapa besar peningkatan tingkat kesegaran jasmani siswa setelah mengikuti model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani.
D.    Tujuan Pendidikan
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani.
2.      Untuk mengetahui seberapa besar perbedaan tingkat kesegaran jasmani siswa yang diajar dengan model pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani.
E.     Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yaitu :
1. Guru
Untuk meningkatkan kualitas mengajar dan mencoba menerapkan model pembelajaran sebagai inovasi baru dalam proses pembelajaran
2. Siswa
Dengan banyaknya model pembelajaran mereka mendapatkan banyak variasi dalam pembelajaran. Selain itu siswa dapat belajar sambil bermain
3. Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan sekolah untuk mengembangkan model pembelajaran.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
A.    Landasan Teori
Teori-teori tentang upaya meningkatkan kebugaran tubuh telah banyak dikemukakan oleh para pakar. Dalam hubungannya dengan penelitian ini, penulis mencoba menggunakan model pembelajaran beraktivitas jasmani sambil bermain. Aktivitas ini merupakan salah satu metode yang tepat dimana keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sekalipun sambil bermain mereka sudah melaksanakan kegiatan jasmani sebagai upaya untuk menjaga kebugaran tubuh. Hal ini sangat bagus untuk melatih kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif siswa.
Dari judul tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan bermain merupakan variabel bebas (independent variable), sedangkan tingkat kesegaran jasmani siswa sebagai variabel terikat (dependent variable).
1.      Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif dan afektif setiap siswa. Pengalaman yang disajikan akan membantu siswa untuk memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan efektif. (Kurikulum Penjas SMP, 2004).
Dari banyak pendapat tentang pengertian pendidikan jasmani, dapat disimpulkan pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik diarahkan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional. (Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi SMP, 2004).
2.      Materi Pendidikan Jasmani SMP/MTs
Struktur materi pendidikan jasmani dikembangkan dan disusun dengan menggunakan model kurikulum kebugaran jasmani dan pendidikan olahraga (Jewwet, Ennis, and Bain, 1995). Asumsi yang digunakan oleh kedua model ini adalah untuk menciptakan gaya hidup sehat dan aktif, manusia perlu memahami hakikat kebugaran jasmani dengan menggunakan resep latihan yang benar.
Materi mata pelajaran pendidikan jasman SMP/MTs meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.      Pengalaman mempraktikkan latihan untuk mempertahankan dan meningkatkan kebugaran jasmani
2.      Pengalaman mempraktikkan keterampilan dasar atletik, senam, permainan dan beladiri
3.      Keterampilan memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani, pengetahuan hakikat kebugaran jasmani, serta pengetahuan praktis latihan kebugaran jasmani
4.      Penerapan peraturan, dan praktik yang aman dalam pelaksanaan kegiatan atletik, senam, permainan dan beladiri
5.      Perilaku yang menggambarkan sikap sportif dan positif, emosi yang stabil, dan gaya hidup yang sehat
Materi pendidikan jasmani SMP/MTs merupakan kelanjutan dari materi di Sekolah Dasar, dan dilanjutkan di SMA. Mater pembelajaran untuk kelas VII dan VIII SMP/MTs meliputi keterampilan dasar olahraga, kesegaran jasmani, dan pembentukan sikap dan perilaku untuk membentuk kecakapan hidup personal.
3.      Karakteristik Pendidikan Jasmani
Pendidikan Jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di SMP/MTs, yang mempelajari dan mengkaji gerak manusia secara interdisipliner. Gerak manusia adalah aktivitas jasmani yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan keterampilan motorik, mengembangkan sikap dan perilaku agar terbentuk gaya hidup yang aktif. Aktivitas jasmani yang dilakukan berupa aktivitas bermain, permainan, dan olahraga.
4.      Karakteristik Siswa SMP/MTs
Selama di SMP/MTs, seluruh aspek perkembangan manusia yaitu psikomotor, kognitif, dan efektif mengalami perubahan yang luar biasa. Siswa SMP/MTs mengalami masa remaja, satu periode perkembangan sebagai transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa remaja dan perubahan yang menyertainya merupakan fenomena yang harus dihadapi oleh guru.
1) Perkembangan aspek psikomotorikWuest dan Lombardo (1974) menyatakan bahwa perkembangan aspek psikomotor seusia siswa SMP/MTs ditandai dengan perubahan jasmani dan fisiologis secara luar biasa. Salah satu perubahan luar biasa tersebut adalah pertumbuhan tinggi badan dan berat badan.
2) Perkembangan aspek kognitif Arasoo T.V (1986) menyatakan bahwa aspek kognitif meliputi fungsi intelektual, seperti pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan berpikir. Untuk siswa SMP/MTs perkembangan kognitif utama yang dialami adalah formal operasional yang mampu berfikir abstrak dengan menggunakan simbol-simbol tertentu. Selain itu ada peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas memori dan bahasa, dan perkembangan konseptual.
3) Perkembangan aspek afektif Menurut Arasoo T.V (1986), ranah afektif menyangkut perasaan, moral dan emosi. Perkembangan afektif siswa SMP/MTs mencakup proses belajar perilaku dengan orang lain atau sosialisasi. Sebagian besar sosialisasi berlangsung lewat pemodelan dan peniruan orang lain.
5.      Model Pembelajaran dengan Pendekatan Bermain
Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan fisik, dan jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka. Model pembelajaran dengan pendekatan bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung akan jauh lebih meriah. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada siswanya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya.
6. Kesegaran Jasmani Sadoso (1989 : 9) Kesegaran jasmani adalah keadaan atau kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas atau tugas-tugasnya sehari-hari dengan mudah tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih mempunyai siswa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya untuk keperluan-keperluan lainnya.
Komponen atau faktor kesegaran jasmani dan komponen kesegaran motorik merupakan satu kesatuan utuh dari komponen kondisi fisik. Agar seseorang dapat dikategorikan kondisi fisiknya baik, maka status komponen-komponennya harus berada dalam kondisi baik pula. Adapun komponen atau faktor jasmani adalah : kekuatan, daya tahan kelenturan.
B. Kerangka Berfikir
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan banyak sekali hal-hal yang dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, salah satunya yaitu melalui aktifitas jasmani. Pendidikan jasmani dapat digunakan sebagai bentuk kegiatan siswa dalam upaya menjaga dan sekaligus meningkatkan tingkat kesegaran jasmani. Dengan mempertimbangkan karakter dan perkembangan siswa guru harus dapat merencanakan dengan matang proses pembelajaran. Dalam membuat perencanaan tersebut guru bisa menggunakan pendekatan, teknik, metode ataupun model pembelajaran.
B.     Hipotesis
Dari uraian di atas hipotesis penelitiannya adalah melalui pembelajaran dengan pendekatan bermain dalam pendidikan jasmani tingkat kesegaran jasmani siswa dapat meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dengan penelitian tindakan kelas peneliti dapat mencermati suatu obyek dalam hal ini siswa, menggunakan pendekatan atau model pembelajaran tertentu untuk meningkatkan tingkat kesegaran jasmani siswa. Melalui tindakan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu dalam bentuk rangkaian siklus kegiatan. Dengan demikian perkembangan dalam setiap kegiatan dapat terpantau
B.     Setting dan Karakteristik Subyek
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VIII D SMP Negeri 3 Kisaran yang berjumlah 32 orang. Kelas VIII D merupakan kelas rintisan Unggulan yang kalau dilihat dari kemampuan akademisnya mereka mempunyai rata-rata yang lebih baik dari pada kelas yang lain. Demikian juga bila dilihat dari perilaku dan kedisiplinannya mereka juga relatif lebih baik dari kelas yang lain. Namun demikian pada saat diadakan tes tingkat kesegaran jasmani dengan menggunakan tes lari 2,4 km, ternyata hasilnya justru paling rendah dibandingkan dengan kelas lain.
Disamping hasil tes tingkat kesegaran jasmaninya paling rendah, anak-anak dikelas tersebut pada saat mengikuti kegiatan dalam pembelajaran juga kurang antusias. Bahkan kadang-kadang ada sebagian dari mereka dalam mengikuti pembelajaran sambil membawa rangkuman ataupun catatan, yang kalau tidak ketahuan mereka sembunyi-sembunyi memanfaatkan waktunya untuk membaca. Mereka mengikuti pelajaran pendidikan jasmani hanya sekedar hadir dan nantinya mendapatkan nilai.
C. Prosedur penilaian
A. Siklus I
Dalam kegiatan siklus yang pertama penulis melaksanakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan yaitu kegiatan olahraga tradisional.
1. Pemanasan
Dalam kegiatan pemanasan kita buat dalam bentuk-bentuk permainan yang menyenangkan. Misalnya : berlari kecil berkelompok sambil memegang bahu sambil bernyanyi bersama, berlari sambil berpegangan tangan dengan bervariasi dari arah kanan ke arah kir bergantian, berlari kecil sambil meloncat dilakukan berpasangan berdua atau bertiga, bahkan dapat dilakukan dengan kelompok yang lebih banyak asalkan jumlahnya ganjil, satu orang berada diantara kelompok sebagai pusat pegangan dan masih banyak lagi bentuk kegiatan pemanasan sambil bermain.
3.      Kegiatan inti
Dalam kegiatan ini dilaksanakan kegiatan out door games. Bentuk kegiatan out door games yang pertama dilaksanakan bentuk kegiatan yang berorientasi pada melatih kekuatan, kelincahan, kelenturan tubuh disamping juga melatih unsur kognitif dan afektif siswa. Sebenarnya banyak sekali jenis out door games yang dapat dilaksanakan dalam pendidikan jasmani, namun dalam siklus I penulis melaksanakan kegiatan bentengan.
Permainan ini berasal dari permainan anak-anak yang awalnya mempergunakan pohon atau tiang sebagai sarana bentengnya. Supaya ada bentuk variasi lain maka kita kembangkan jenis permainan ini dengan media lain. Prasarana : berupa lapangan seluas lapangan basket. Sarana : bekas botol plastik, bekas tempat bola tenis, dengna jumlah5 sampai 10 buah, sebagai benteng yang harus direbut dan dilarikan dari daerah musuh. Cara bermainnya sama dengna permainan bentengan lainnya, hanya saja pada bentengan ini yang diperebutkan adalah bekas tempat bola tenis, atau botol bekas minuman. Langkah pertama peserta dibagi dua team dengan jumlah sama banyak. Benteng yang terbuat dari botol, atau gelas plastik berada dibelakang team masing-masing. Tiap team dibagi dalam 3 kelompok masing-masing sebagai team penyerang, pengecoh lawan dan yang mempertahankan benteng. Team pemenang adalah team yang berhasil lebih dahulu merebut seluruh benteng lawan. Bila dibatasi dengan waktu maka team pemenang adalah team yang paling banyak mengumpulkan benteng lawan,
4.      Kegiatan Akhir
Dalam kegiatan akhir setelah penenangan diadakan evaluasi sekaligus pemberian motivasi pada mereka yang masih belum maksimal dalam beraktivitas.
C.    Siklus II
Dalam siklus kedua dicobakan untuk aspek yang lain yaitu aspek aktivitas ritmik. Bentuk kegiatannya pun sama seperti pada siklus I, hanya bedanya kegiatan ini dilaksanakan di dalam ruangan. Hal ini sambil memantau semangat mereka dalam beraktivitas selama dilapangan ataupun dalam ruangan. Dalam kegiatan pemanasan dibuat dalam bentuk-bentuk permainan sambil bergerak dan juga sambil bernyanyi. Kemudian dalam kegiatan inti kita berikan contoh-contoh gerakan sambil mereka menirukan dan biarkan mereka mengikuti sambil bernyanyi. Untuk itu kita pilih kaset-kaset yang lirik dan lagunya disukai oleh anak-anak. Setelah itu dibuat kelompok-kelompok, biarkan mereka untuk bermain dan berkreasi menciptakan gerakan-gerakan sesuai dengan ide dan gagasan mereka.
D.    Siklus III
Pada siklus II kita cobakan jenis kegiatan aktivitas jasmani yang selama ini kurang disenangi oleh para siswa yaitu atletik pada nomor lempar lembing. Pada kegiatan inipun kita berlakukan mulai pemanasan sampai kegiatan inti dengan pendekatan bermain. Pada saat pemanasan kita gunakan bola tenis dengna jumlah yang cukup. Secara berkelompok ataupun berpasangan biarkan mereka bermain lempar tangkap sambil main kucing-kucingan. Selama kegiatan pemanasan yang penting mereka melakukan gerakan ada unsur lari, lempar tangkap baik itu berpasangan maupun kelompok. Pada kegiatan inti mereka tidak langsung menggunakan lembing. Biarkan mereka tetap menggunakan bola tetapi kita arahkan untuk lemparannya sudah menggunakan teknik lemparan lembing. Hal itu dilakukan secara berulang-ulang biarkan mereka sambil bermain. Kalau sebagian besar teknik lemparan sudah benar kita lombakan untuk melempar lebih jauh. Bagi yang mereka lemparannya jauh kita berikan pujian. Bagi yang belum betul dan belum jauh, kita beri semangat supaya tidak kalah dengan yang lain. Setelah mereka paham dan bisa membedakan teknik lemparan biasa dengan teknik lemparan lempar lembing baru kita kenalkan dengan lembing yang sesungguhnya. Itupun kita buat dalam bentuk bermain, tetapi untuk faktor keamanan dan keselamatan tetap kita perhatikan.

CONTOH PROPOSAL PENJAS SD


"PENGGUNAAN MEDIA KARET UNTUK MENUMBUHKAN KEBERANIAN, KESENANGAN DAN PERCAYA DIRI DALAM PEMBELAJARAN LOMPAT TINGGI DI KELAS IV SDN 02 KEBONDALEM KECAMATAN PEMALANG


BAB I PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang Masalah
Setiap cabang olah raga memerlukan keterampilan, keberanian, kesenangan dan percaya diri tertentu dalam melakukan agar hasilnya bisa maksimal. Seperti tinju, pencak silat, karate, sepak bola dan cabang olah raga yang lain memerlukan hal tersebut. Demikian juga halnya dengan cabang olah raga lompat tinggi, agar hasilnya optimal perlu memiliki keberanian, kesenangan, dan percaya diri dalam melakukannya.
Namun kenyataannya tidak semua murid memiliki keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam melakukan gerak dalam cabang olahraga lompat tinggi, seperti yang penulis amati ketika mengajar lompat tinggi di kelas IV SDN 02Kebondalem. Dalam  pre tes hasil belajar siswa menunjukkan bahwa 86 % siswa belum mencapai KKM yaitu 60 (Hasil lengkap pre tes terdapat pada lampiran 3). Hal ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran lompat tinggi mengalami masalah yang harus dicari solusinya.
Salah satu tugas seorang guru olahraga adalah meyiapkan diri untuk melatih para siswanya yang mempunyai minat dan bakat di bidang olahraga tertentu, guna mencapai prestasi optimalnya kelak.
Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis mencoba menerapkan salah satu media yaitu ‘”Penggunaan media karet” yang penulis anggap efektif dan efisien untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV SDN 02 Kebondalem.
Diharapkan dengan cara memodifikasi alat pembelajaran dengan menggunakan media karet siswa akan lebih konsentrasi pada lompatan dibandingkan dengan menggunakan media standar pada lompat tinggi, sehingga akan terhindar dari rasa takut, timbul kesenangan dan rasa percaya diri yang menuju pada perubahan dan perbaikan sesuai yang diharapkan.
Adapun yang menjadi dasar penulis dalam melakukan penelitian tindakan ini sesuai dengan ilmu perkembangan yang penulis ketahui diantaranya:
Terminologi dalam perkembangan gerak. Ada beberapa istilah dalam perkembangan gerak yang perlu dijelaskan pengertiannya yaitu istilah-istilah :
1. Pertumbuhan (growth)
2. Perkembangan (development)
3. Kematangan (maturation)
Pertumbuhan adalah proses peningkatan yang ada pada diri seseorang yang bersifat kuantitatif atau peningkatan urutan, misalnya mengenai pertumbuhan fisik. Perkembangan adalah proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh semakin bisa dikendalikan sesuai dengan fungsiya masing-masing. Perkembangan gerak pasti terjadi dengan memberikan media latihan fisik yang disesuaikan dengan tingkat keberanian, kesenangan sehingga timbul kepercayaan diri secara bertahap.
Kematangan adalah kemajuan dalam proses meningkatkan individu menjadi matang, seperti halnya dalam pertumbuhan dan perkembangan juga berlangsung secara berangsur-angsur. Proses peningkatan kemampuan berhubungan dengan dengan terjadinya masa-masa sensitif untuk munculnya atau berkembangnya perilaku baru. Proses belajar akan meyempurnakan peguasaan perilaku yang munculnya dalam proses kematangan.

1.2 . Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana tersebut di atas, masalah-masalah yang berkenaan dengan menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Apakah penggunaan metode belajar dapat meningkatkan, menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi ?
2. Apakah penampilan, gaya bicara seorang guru dapat memberikan motivasi yang bisa menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi ?
3. Apakah penggunaan media karet dapat menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi ?
4. Apakah intensitas latihan dapat menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi ?
1.3.  Pembatasan dan Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah sebagaimana tersebut di atas, banyak faktor yang dapat menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi. Namun karena keterbatasan waktu dan tenaga, dalam penelitian ini akan dibatasi pada masalah penggunaan media karet untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV SDN 02 Kebondalem.
Sesuai dengan pembatasan masalah tersebut di atas, dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah penggunaan media karet dapat menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi secara efektif di kelas IV SDN 02 Kebondalem ?
2. Apakah penggunaan media karet akan mendapatkan hasil yang baik untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV ?
3. Apakah media karet dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV ?

1.4.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian tindakan ini maka tujuan yang hendak dicapai adalah :
- Menerapkan metode pembelajaran yang dapat disenangi siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan.
- Meningkatkan keberanian, kesenangan dan rasa percaya diri bagi siswa belajar.
- Meminimalkan kesulitan belajar melalui penggunaan media pembelajaran yang disenangi siswa dengan bahan yang mudah didapat dan murah.
- Memperkenalkan media karet untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV SDN 02 Kebondalem.

1.5.  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dalam pengunaan media karet dalam pembelajaran lompat tinggi adalah sebagai berikut :
a. Bagi guru : Bermanfaat untuk mempermudah dalam meningkatkan minat belajar khususnya dalam pelajaran olahraga di SD dan lebih berpariatif dalam menggunakan media pembelajaran.
b. Bagi siswa : Bermanfaat bagi siswa yang kurang menyenangi dan kesulitan dalam melakukan olahraga lompat tinggi yang manggunakan alat yang sebenarnya (standar).

c. Bagi sekolah :
-          Dapat dijadikan acuan dan memotivasi guru lain yang belum melaksanakan tindakan kelas.
-          Dapat dijadikan program tindak lanjut dalam meningkatkan prestasi siswa dengan biaya yang murah dan mudah didapat.
-          Dapat dimasukan RAPBS pada program anggaran tahun depan.
-          Dapat dijadikan motifasi guru bidang lain dalam menciptakan media pembelajaran yang berfariatif untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi siswa guru dan sekolah.


BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1.  Media Pembelajaran
Ketepatan penggunaan media pembelajaran dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat dan bakat siswa untuk menerima pelajaran dan tidak membosankan dalam mengikuti pelajaran olahraga di lapangan. Sebagai penggunaan media karet untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri, siswa diarahkan secara beragam dan bertahap untuk lebih mampu menghadapi setiap rintangan mulai dari terendah sampai standar tertinggi.
Pada periode umur 9-11 tahun dalam periode ini pertumbuhannya lancar, otot-otot tumbuh cepat dan butuh latihan, postur tubuh cenderung belum bagus, karena itu memerlukan latihan-latihan pembentukan tubuh. Usia SD 9-11 tahun, penuh energi tetapi mudah lelah timbul minat untuk mahir dalam suatu keterampilan fisik tertentu dan permainan-permainan yang terorganisir tetapi belum siap untuk mengerti peraturan yang rumit, rentang perhatian lebih mana. Usia SD 9-11 tahun menyenangi aktifitas yang dramatis, kreatif, imajinatif, ritmis, minat berprestasi individu, kompetitif, punya idola, ini saat yang baik untuk mendidik moral dan prilaku sosial yang baik. “Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Usia Dini”. (DEPDIKNAS, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Taman Kanak-kanak SD Jakarta 2003).
Beberapa teori yang berhubungan dengan penggunaan media pembelajaran untuk meningkatkan minat belajar siswa yang sesuai dengan usia dan psikologi gerak.
Waharsono (2003)
Perkembangan dan belajar gerak Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.
Sajoto (2003)
Bio mekanika, kondisi fisik sekolah biasa, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.
Gagne (1985:67)
Pembelajaran dapat dibagi ke dalam lima bagian : (Intelectual skill, cognitive strategy, motor skill, dan attitude ). Gagne menekankan pentingnya kondisi internal dan kondisi eksternal dan suatu pembelajaran agar siswa memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Dengan demikian sebaiknya memperhatikan atau menata pembelajaran yang memungkinkan mengaktifkan memori siswa yang sesuai agar informasi yang baru dapat diterima.
John Dewey
“Learning by doing” didukung oleh Rouseau, Pestalozi, Frobel dan Montesory, mengemukakan bahwa aktivitas siswa dalam proses belajar adalah aktivitas jasmani maupun mental yang digolongkan dalam 5 hal :
a. Aktivitas Visual, seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen dan demonstrasi.
b. Aktivitas Lisan (Oral Activitis), seperti bercerita, membaca sajak, Tanya jawab, diskusi menyanyi.
c. Aktivitas Gerak (Motoric Actifitis), seperti senam, atletik, menari dan melukis.
d. Aktivitas Mendengarkan (Listening Activities) mendengakan penjelasan guru dan ceramah.
Aktivitas Menulis (Writen Activities ) seperti mengarang, membuat makalah.
Dari judul penelitian tindakan kelas yaitu “Penggunaan media karet untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV SD 02 Kebondalem.

2.2.  Pengertian Keberanian
Keberanian berasal dari kata berani = 1. Sifat batin ( hati ) yang tak takut menghadapi bahaya (kesulitan, kesulitan dsb) tidak penakut misalnya orang tidak akan mundur mengahadapi rintangan sesulit apapun. (Kamus B. Indonesia WJS. Poerwadarminta PN. BALAI PUSTAKA Jakarta 1984).
Dari pendapat tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa keberanian adalah sifat batin yang dimiliki seseorang yang tidakgentar atau mundur dalam menghadapi rintangan sesulit apapun.

2.3.  Pengertian Kesenangan
Kesenangan berasal dari kata senang : 1. (merasa puas, lega, tidak susah, tidak kecewa). Kesenangan : 2. (kepuasan hati, kelegaan, kesukaan dsb). : 3. Keenakan, kenyamanan : 4 (kebahagiaan hidup). (Kamus B. Indonesia WJS. Poerwadarminta PN. BALAI PUSTAKA Jakarta 1984).
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kesenangan adalah keadaan hati seseorang yang merasa puas, nyaman, tidak tertekan dalam melakukan apapun.

2.4.  Pengertian Percaya Diri
Percaya adalah : 1 ( menganggap, mengakui, yakin) : 2 menanggap orang, (sesuatu) jujur, tidak jahat, tidak berbahagia dsb misal : Ia, apapun, (tidak jahat, tidak berbahaya) boleh diharapkan kebenarannya. (Kamus B. Indonesia WJS. Poerwadarminta PN. BALAI PUSTAKA Jakarta 1984). Diri adalah : 1. Orang seseorang (terasing : diri yang lain); badan misal : hikayat ku tak tahu-akan-nya nama (peng) ganti aku orang benda (seperti, saimin, merapi-cicurug dsb). (Kamus B. Indonesia WJS. Poerwadarminta PN. BALAI PUSTAKA Jakarta 1984).
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa percaya diri adalah keyakinan yang tumbuh dari diri sendiri akan kekuatan atau kemampuan yang ada pada diri sendiri.

BAB III METODE PENELITIAN
3.1.  Perencanaan Penelitian
Penelitian ini adalah jenis Penelitaian Tindakan Kelas (PTK) yang membahas masalah penggunaan media karet untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV SDN 02 Kebondalem.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 02 Kebondalem Kec. Pemalang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah siswa sebanyak 35 siswa, ada dua variabel yang akan diungkapkan dalam penelitian ini yaitu :
1. Variabel kemampuan siswa melewati rintangan (lompatan) dengan menggunakan alat lompatan standar yang biasa dipakai untuk lomba.
2. Variabel kemampuan siswa melewati rintangan (lompatan) dengan menggunakan media karet.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan tindakan observasi dan refleksi.
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara dan angket untuk data kualitatif dan penilaian hasil tes pembelajaran siswa sebagai data kuantitatif.
Untuk keperluan analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes perbuatan dalam proses pembelajaran yang dilakukan dua kali penilaian terhadap materi olahraga (lompat tinggi).
Dalam prakteknya penelitian tindakan kelas adalah tindakan yang bermakna melalui prosedur penelitian yang mencakup empat langkah yaitu :
1.      Merumuskan masalah dan merencanakan tindakan.
2.      Melaksanakan tindakan (getting)
3.      Pengamatan
4.      Merepleksikan hasil pengamatan.
Adapun empat langkah prosedur penelitian kelas yang dapat dilaksanakan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Empat langkah utama yang saling berkaitan itu dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas sering disebut dengan siklus. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan Suharsisi, Suhardjono dan Supardi (2006:16)

1) Perencanaan (Planning )
Kegiatan perencanaan mencakup (1) identifikasi masalah (2) analisis peyebab adanya masalah, dan (3) pengembangan bentuk tindakan (aksi) sebagai pemecahan masalah. Untuk keperluan identifikasi masalah dalam penelitian tindakan kelas ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
Masalah harus benar-benar terjadi dan dirasakan oleh guru pada saat melaksanakan tugas, sebagai contoh setelah diberikan tugas awal diperoleh data bahwa :
(1) Sebagian besar siswa (70%) tidak mampu melakukan lompatan setinggi 70 cm dalam pembelajaran lompat tinggi.
(2) Tingkat kemampuan siswa terhadap keberanian, kesenangan dan percaya diri (75%) siswa belum mencapai batas ketuntasan, yaitu nilai 60. Masalah-masalah pembelajaran di lapangan seperti inilah yang bisa digolongkan sebagai masalah nyata karena didukung dengan data yang betul-betul dapat dipertanggung jawabkan dan dipuyai oleh guru.
b. Problematik, artinya masalah perlu dipecahkan berkaitan dengan tanggung jawab, kewewenangan dan tugas seorang guru. Karena tidak semua masalah pembelajaran yang terjadi secara nyata (riil) bisa dikategorikan sebagai masalah problematik, misalnya, meskipun mayoritas siswa tidak lancar membaca teks bahasa inggris. Masalah ini kurang problematik bagi guru penjaskes.
c. Memiliki manfaat yang jelas, artinya pemecahan masalah yang dilakukan akan memberikan manfaat yang jelas bagi siswa dan guru karena ada kemungkinan kalau masalah tidak segera diatasi akan mengganggu penguasaan kompetensi berikutnya dalam proses pembelajaran yang mempunyai sifat berkesinambungan.
d. Dapat dipecahkan oleh guru selaku pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Setelah guru menemukan masalah, perlu segera melaksanakan langkah identifikasi penyebab munculnya masalah.
2) Tindakan (Acting)
Untuk menentukan bentuk tindakan (aksi) yang dipilih perlu mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
Apakah tindakan (aksi) yang dipilih telah mempunyai landasan berpikir yang mantap, baik secara kajian teoritis maupun konsep?
Apakah alternative tidakan (aksi) yang dipilih dipercayai dapat menjawab permasalahan yang muncul?
Bagaimanakah cara melaksanakan tindakan dalam bentuk langkah-langkah setiap siklus dalam proses pembelajaran di lapangan?
Bagaimana cara menguji tindakan sehingga dapat dibuktikan telah terjadi perbaikan kondisi dan peningkatan proses dalam kegiatan pembelajaran di lapangan yang diteliti?
Jawaban dari seluruh pertanyaan di atas adalah hipotesis tindakan yakni alternatif tindakan yang dipandang paling tepat atau dipercaya oleh peneliti akan mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Setelah ditetapkan bentuk tindakan. yang dipilih sesuai dengan rencana pelaksanaan tindakan, maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan dalam proses pembelajaran sesuai dengan scenario pembelajaran yang sudah dibuat oleh guru.
3) Observasi
Kegiatan observasi atau pengamatan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran lengkap secara objektif tentang pengembangan proses pembelajaran dan pengaruh dari tindakan yang dipilih terhadap kondisi kelas dalam bentuk data. Data yang dihimpun melalui pengamatan (observasi) ini meliputi data kuantitatif dan kualitatif sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Pengambilan data harus bersifat keseluruhan data, tidak haya menggunakan satu instrumen saja. Kegiatan pengambilan data dapat dilakukan diantaranya dengan cara :
Observasi atau pengamatan (nontes), bagaimana anak mempersiapkan alat dan bahan ? dan bagaimana mengunakan alat ? serta bagaimana sikap anak ketika mengejarkan tugasya ?
b. Wawancara (nontes) dengan beberapa orang anak yang berbeda tingkat penguasaan pada pelajaran lompat tinggi dilakukan secara lisan.
c. Angket (not-tes) sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa secara tertulis yang berguna untuk mengungkapkan tanggapan balik siswa dan dampak dari aktifitas tindakan selama proses pembelajaran berlangsung.
d. Dokumentasi (nontes) gambar atau foto proses belajar mengajar.
e. Nilai ulangan (nontes) penelitian hasil tugas yang dilakukan guru.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan data berkaitan dengan observasi ini adalah :
Jenis data yang dihimpun memang diperlukan dalam rangka implementasi tindakan perbaikan.
Indikator-indikator yang ditetapkan harus tergambarkan pada perilaku siswa dan guru secara terukur.
Kesesuaian prosedur pengambilan data.
Pemanfaatan data dalam analisis dan refleksi.
4) Refleksi
Refleksi dilakukan untuk mengadakan evaluasi yang dilakukan guru dan tim pengamat dalam penelitian tindakan lapangan. Refleksi dilakukan dengan cara berdiskusi terhadap berbagai masalah yang muncul di lapangan. Penelitian yang diperoleh dari analisis data sebagai bentuk dari pengaruh tindakan yang telah dirancang pada kegiatan refleksi ini juga ditelaah aspek-aspek mengapa, bagaimana, dan sejauh mana tindakan yang dilakukan mampu memperbaikan masalah secara bermakna. Berdasarkan masalah-masalah yang muncul pada refleksi hasil perlakukan tindakan pada siklus pertama maka akan ditentukan oleh peneliti apakah tindakan yang dilaksanakan sebagai pemecahan masalah sudah mencapai tujuan atau belum. Melalui refleksi inilah maka peneliti akan menentukan keputusan untuk melakukan siklus lanjutan ataukah berhenti karena masalahnya telah terpecahkan. Misalnya target yang telah ditetapkan anak harus mendapat nilai 70 ternyata hasil pada siklus 1 baru mencapai 60 maka perlu dilakukan tindakan perbaikan siklus II.
Metode penelitian yang dilaksanakan di SDN 02 Kebondalem kelas IV ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari :
a. Perencanaan tindakan
b. Pelaksanaan tindakan
c. Observasi dan refleksi
Dalam hal ini untuk memudahkan penulisan secara rinci penulis akan menetapkan pokok-pokok rencana kegiatan sebagai berikut :
Siklus I Perencanaan :
 • Merencanakan pembelajaran yang akan ditetapkan dalam PBM
• Menentukan pokok bahasan
• Mengembangkan skenario pembelajaran
• Menyusun lembar pengamat
• Menyiapkan sumber belajar
• Mengembangkan format observasi pembelajaran
Tindakan 1 :  Menerapkan tindakan yang mengacu dalam skenario yang direncanakan dalam lembar pengamatan dan RPP lembar penilaian.
Pengamatan :  Melakukan pengamatan pada waktu PBM berlangsung dengan menggunakan alat ukur berupa lembar pengamatan dan evaluasi (daftar nilai)
Refleksi 1 :  Melakukan evaluasi tindakan telah dilakukan, meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Siklus II Perencanaan :  Mencatat masalah yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran di lapangan. Merencanakan program tindakan yang akan diambil (dilakukan) dalam proses pembelajaran berikutya.
Tindakan :  Melaksanakan alternatif tindakan pembelajaran yang mengacu pada RPP dan lembar pengamatan.
Pengamatan :  Mengolah data hasil pengamatan dalam pembelajaran di lapangan.
Refleksi :  Melakukan evaluasi dari hasil tindakan dari pengamatan proses pembelajaran.

Perencanaan siklus I : RPP siklus I
Instrumen : Format lembar pengamatan pembelajaran siswa siklus I
Instrumen : Format rumusan observasi siklus 1
Instrumen : Format rumusan penilaian siklus 1

Perencanaan siklus II : RPP siklus II
Instrumen : Format lembar pengamatan pembelajaran siklus II
Instrumen : Format rumusan observasi pembelajaran siklus II
Instrumen : Format rumusan penilaian (evaluasi) siklus II
Instrumen : Format rumusan observasi pembelajaran siklus II
Kesimpulan dan saran.

3.2.  Pelaksanaan Penelitian
1. Subjek, tempat dan waktu Penelitian
Subyek : Siswa Kelas IV SDN 02 Kebondalem berjumlah 46 orang
Tempat : SD Negeri 02 Kebondalem Kecamatan Pemalang
Waktu : Bulan Maret Minggu ke-2 tahun 2012
Lama tindakan : + 2 bulan
2. Prosedur Langkah-langkah Penelitian
a. Metode Penelitian
Sederhana apapun penelitian, pembahasan metode tidak boleh dilupakan, karena bagian ini menjelaskan uraian langkah-langkah penelitian yang dapat memberikan informasi tentang rencana dan pelaksanaan tindakan yang mengambarkan unsur-unsur sebagai berikut :
1) Setting penelitian, tempat dimana penelitian dilaksanakan.
2) Sasaran penelitian.
3) Desain penelitian yaitu rancangan tentang langkah-langkah tindakan.
4) Pengumpulan data secara lengkap dengan jenis instrumen yang dipakai.
5) Analisis data dan refleksi.
Metode yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah metode ilmiah dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Siklus Pertama :
1. Perencanaan : identifikasi masalah dan alternative pemecahan masalah.
a. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar.
b. Menentukan pokok bahasan.
c. Mengembangkan skenario pembelajaran
d. Menyusun Lembar Kerja Siswa
e. Menyiapkan sumber belajar.
f. Mengembangkan format evaluasi
g. Mengembangkan format observasi pembelajaran.
2. Tindakan : menerapkan tindakan mengacu pada skenario
3. Pengamatan (observasi)
a. Melakukan observasi dengan memakai format observasi
b. Menilai hasil tindakan

4. Refleksi
a. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap tindakan.
b. Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi yang digunakan pada siklus berikutnya.
5. Evaluasi tindakan
a. Perencanaan / identifikasi masalah dan alternative pemecahan masalah.
b. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Siklus Kedua :
1. Perencanaan
a. Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
b. pengembangan program
2. Tindakan : Pelaksanaan program tindakan II
3. Pengamatan : Pengumpulan data
4. Refleksi : berdasarkan masalah-masalah yang muncul pada siklus pertama, maka akan memutuskan untuk melakukan silkus lanjutan yaitu Evaluasi tindakan II.
3. Tim Peneliti dan Pembagian Tugas
Tim peneliti terdiri dari penulis sebagai ketua peneliti, teman sejawat dan kepala sekolah.
4. Pembagian Tugas
a. Ketua Peneliti bertugas sebagai :
1. Menentukan langkah-langkah pemecahan masalah
2. Menganalisis penyebab munculnya masalah
3. Merumuskan masalah, serta
4. Mengembangkan alternatif tindakan
b. Teman sejawat bertugas sebagai teman untuk berkolaborasi atau bekerja sama untuk mengamati proses belajar mengajar di kelas dan teman berdiskusi.
c. Kepala sekolah sebagai pengamat dan tempat untuk berkonsultasi.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran penulis menggunakan lembaran pengamatan sebagai bahan acuan dalam penelitian tindakan kelas di kelas IV SDN 02 Kebondalem. Berikut ini adalah salah satu alat ukur keberhasilan pengunaan metode pembelajaran sebelumnya dan metode pembelajaran yang dimodifikasikasi.